الثلاثاء، 4 ديسمبر 2012

Senyawa Eugenol


ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA EUGENOL PADA KULIT BATANG TUMBUHAN KAYU MANIS (Cinnamomum zeylanicum)

12 Sep

BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Dalam ilmu taksonomi tumbuhan kayu manis dikenal dengan nama latin Cinnamomum dan termasuk dalam familia lauraceae. Sejak dulu kayu manis dikenal sebagai bumbu penyedap masakan dan pembuatan kue, dengan memakai batang kulitnya yang kemudian dikeringkan. Sejak 5000 tahun yang lalu kayu manis telah dikenal, konon tertulis di Old Testamen. Di jaman Mesir kuno dipakai untuk membalsem mummi, di China tertulis dalam buku pengobatan tradisional sejak 2700 tahun sebelum Masehi ( Anonimous, 2011 ).

Penelitian di Amerika, mengungkapkan bahwa batang kulit kayu manis memiliki kandungan insulin yang akan melancarkan proses metabolisme glukosa, sehingga kadar gula di dalam darah bisa ditekan mendekati normal. Kayu manis juga dapat dimanfaatkan untuk kesehatan jantung dan sirkulasi darah, untuk kesehatan percernaan makanan, untuk meringankan penyakit flu, mengurangi sakit waktu mestruasi, untuk mengurangi percepatan perkembangan leukemi, mencegah kanker usus besar, dan mengandung anti bakteri dan anti jamur.

Khasiat obat tersebut tidak terlepas dari aktivitas komponen kimia yang terkandung didalam tumbuhan tersebut yaitu minyak atsiri, eugenol, safrole, sinamaldehide, tanin, kalsium oksalat, damar, dan zat penyamak. Sifat kimianya, pedas, sedikit manis, hangat, dan wangi. Nilai utama kayu manis terdapat pada bagian kulit dari batang, cabang serta ranting yang mengandung minyak atsiri, terutama sinamaldehid (60-75%) dan eugenol (4-18%) (Suherdi, 1999).

Dalam pengobatan tradisional Asia, kayu manis zeylanicum telah lama digunakan untuk mengobati tekanan darah dan peredaran darah yang kurang lancar (Vijaya Kumar, 2006).

Kayu manis mengandung senyawa yang berfungsi sebagai anti oksidan. Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menunda, menghambat, atau mencegah proses oksidasi pada makanan sehingga tidak menye­babkan ketengikan/kerusakan. (Barlow, 1989).

Salah satu komponen kimia dalam kulit kayu manis adalah cairan seperti minyak berwarna kuning pucat yang dihasilkan dari ekstraksi minyak esensial seperti minyak dari cengkeh dan kayu manis. Eugenol mempunyai rumus molekul C10H1202, dan larut dalam alkohol, eter dan kloroform. Eugenol banyak digunakan di bidang farmasi, industri makanan dan minuman, kosmetik dan sebagai bahan baku produk-produk kimia yang lain. Minyak atsiri yang diperoleh dari daun Cinnamomum zeylanicum kaya akan eugenol yaitu 65-95% yang merupakan bahan penting dalam industri essence.

Hal inilah yang mendorong peneliti untuk mengadakan penelitian dengan judul:”Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Eugenol pada Kulit Batang Tumbuhan Kayu Manis (Cinnamomun zeylanicum ).”

B. Permasalahan

Penelusuran keaktifan pada senyawa-senyawa kimia baru untuk mengembangkan sistem pengobatan tradisional dalam berbagai lapisan masyarakat telah dilakukan. Tumbuhan kayu manis yang memiliki banyak kasiat, yaitu sebagai kasiat obat dan bumbu dapur yang digunakan oleh masyarakat dalam pengobatan. Maka dari hasil penelusuran literatur diketahui eugenol adalah bahan baku farmasi, yaitu sebagai obat analgesik lokal dan antiseptik. Bahan aktif pada kayu manis adalah eugenol dan safrol yang ditemukan pada kayu atau kulit kayu (Putra, 2005). Namun data-data tentang kandungan senyawa eugenol dalam tumbuhan kayu manis belum ada sehingga menimbulkan beberapa permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Bagaimana cara mengisolasi senyawa eugenol dari kulit batang tumbuhan kayu manis (Cinnamomun zeylanicum)?
Bagaimana melakukan karakterisasi senyawa eugenol dari kulit batang tumbuhan kayu manis (Cinnamomun zeylanicum)?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
a. Tujuan
Untuk mengetahui senyawa eugenol dari kulit batang tumbuhan kayu manis (Cinnamomun zeylanicum).
Mengetahui karakterisasi senyawa eugenol dari kulit batang tumbuhan kayu manis (Cinnamomun zeylanicum) dengan menggunakan metode GC-MS.
b. Manfaat penelitian
Sebagai sumber pengetahuan tambahan bagi peneliti khususnya mengenai senyawa eugenol yang terkandung dalam kulit batang kayu manis (Cinnamomun zeylanicum).
Sebagai bahan informasi bagi masyarakat tentang manfaat senyawa eugenol yang terkandung dalam kulit batang kayu manis (Cinnamomun zeylanicum).
Sebagai sumbangan perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu kimia, di mana dengan hasil penelitian ini dapat dijadikan salah satu sumber bacaan dan sebagai bahan literatur.
Sebagai bekal pengetahuan praktis bagi mahasiswa lain yang ingin melakukan penelitian lanjutan mengenai kayu manis.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


A. Gambaran Umum Tumbuhan Kayu Manis

Pohon kayu manis merupakan tumbuhan asli Asia Selatan, Asia Tenggara dan daratan Cina, (Smith, 1986) Indonesia termasuk di dalamnya. Tumbuhan ini memiliki nilai ekonomi dan merupakan tanaman tahunan yang memerlukan waktu lama untuk diambil hasilnya. Hasil utama kayu manis adalah kulit batang dan dahan, sedang hasil ikutannya adalah ranting dan daun. Komoditas ini selain digunakan sebagai rempah, hasil olahannya seperti minyak atsiri dan oleoresin banyak dimanfaatkan dalam industri-industri farmasi, kosmetik, makanan, minuman, rokok, dan sebagainya.

Di Indonesia tumbuhan kayu manis diberi nama oleh masyarakat setempat sesuai dengan daerahnya masing-masing, misalnya modang siak-siak (Batak), Kayu manis (Melayu), madang kulit manih (Minangkabau), Huru mentek (Bali), Kiamis (Sunda), Kanyengar (Kangean), Kesingar (Nusa Tenggara), Cingar (Bali), Onte (Sasak), Kaninggu (Sumba), Puu ndinga (Flores) (Ruslan, 1990).

Rismunandar dan Paimin (2001) menjelaskan hanya empat jenis saja yang terkenal dalam dunia perdagangan ekspor maupun lokal, yaitu: Cinnamomum burmanii, Cinnamomum zeylanicum, Cinnamomum cassia, dan Cinnamomum cullilawan.

Cinnamomum burmanni ini berasal dari Indonesia. Tanaman ini akan tumbuh baik pada ketinggian 600–1500 meter dari permukaan laut. Kayu manis ini merupakan tanaman asli Indonesia yang banyak dijumpai di Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu dengan tinggi tanaman dapat mencapai 15 m. Daunya kecil dan kaku dengan pucuk berwarna merah. Umumnya tanaman yang tumbuh didataran tinggi warna pucuknya lebih merah dibandingkan dengan dataran rendah. Kulitnya abu-abu dengan aroma khas dan rasanya manis.

Cinnamomun zeylanycum dalam dunia perdagangan dikenal dengan Ceylon cinnamon. Hingga kini tanaman ini masih dapat dijumpai dihabitat aslinya, pulau Ceyllon (Srilanka). Setiap bagian tanamannya mengandung minyak atsiri sinamat aldehid dan eugenol. Minyak atsiri dari kulit yang didestilasi rata-rata mencapai 0,5-1% yang terdiri dari 60% sinamat aldehid dan 10% eugenol. Kadar minyak tersebut akan semakin berkurang seiring dengan pertambahan umur tanaman. Selain kulit dan daun, akarnya pun mengandung minyak atsiri 1,5-2% dengan kadar 70-95% eugenol dan 5% sinamat aldehida. Sementara akarnya mengandung sejenis minyak atsiri yang tidak berbau khas, minyak safrol, eugenol dan kamfer. Bijinya mengandung sejenis lemak sekitar 30%. Lemak tersebut berbutir-butir dan meleleh dalam suhu 420C.­ Tanaman ini sangat cocok ditanam di dataran rendah sampai 500 meter dari permukaan laut. Tanaman mencapai tinggi 5–6 m dan bercabang lateral. Pemanenan dapat dilakukan pada umur tiga tahun, kulitnya berwarna abu–abu.

Cinnamomum cassia merupakan tanaman asli dari Birma dan diperbanyak di Cina Selatan. Dalam dunia perdagangan tanaman ini dikenal dengan nama Chinese cinnamom. Warna pucuknya bervariasi dari hijau muda sampai hijau kemerahan, tajuknya berbentuk piramida. Kandungan minyak atsiri pada kulit cabang lebih tinggi dari kulit batang dan ranting. Tercatat bahwa kadar minyak atsiri kulit batang 3,78%, kulit cabang 4,05% dan kulit ranting 3,95% sementara kandungan minyak atsiri pada daun hanya 0,98%.

Cinnamomum cullilawan hanya dikenal di daerah Ambon dan Pulau Seram (Maluku) dengan nama selakat atau selakar. Tanaman ini membentuk pohon yang tumbuh liar. Batang pokoknya lurus dan tinggi dengan diameter cukup lebar sehingga penampilanya cukup mengesankan. Kayunya termasuk kayu lunak dan berwarna putih sehingga kayunya tidak dapat dimanfaatkan sebagai kayu bangunan. Kulit batang dan akarnya mengandung minyak atsiri, namun minyak atsiri pada akar berbau minyak adas. Daun C.cullilawan agak berlendir dengan bau mirip minyak cengkeh

Sistematika kayu manis menurut Rismunandar dan Paimin (2001), sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Gymnospermae

Subdivisi : Spermatophyta

Kelas : Dicotyledonae

Sub kelas : Dialypetalae

Ordo : Policarpicae

Famili : Lauraceae

Genus : Cinnamomum

Spesies : Cinnamomum zeylanicum

Morfologi tanaman berupa pohon, tumbuh tegak, tahunan, tinggi dapat mencapai 15 m. Batang berkayu, bercabang, warna hijau kecoklatan. Daun tunggal, bentuk lanset, ujung dan pangkal meruncing, tepi rata, saat masih muda berwarna merah tua atau hijau ungu, daun tua berwarna hijau. Bunga majemuk malai muncul dari ketiak daun, berambut halus, mahkota berwarna kuning. Buah buni, warna hijau waktu muda dan hitam setelah tua. Biji kecil-kecil, bentuk bulat telur. Kulit batang mengandung damar, lendir dan minyak atsiri yang mudah larut dalam air.
B. Ciri Fisik Kayu Manis

Ciri khas dari famili Lauraceae adalah kulit batang pokok hingga cabang dan rantingnya mengandung minyak atsiri. Tidak hanya terbatas pada kulit saja tetapi bagian dari tanaman mengandung minyak atsiri. Daunnya tunggal, duduknya berseling atau dalam rangkaian spiral umumnya liat dan warnanya hijau. Rata-rata bunganya berkelamin dua (sempurna), bentuknya kecil dan berwarna hijau atau kuning. Berkelopak bunga 6 helai dalam 2 rangkaian. Tidak bertajuk bunga. Benang sarinya 12 helai dirangkai dalam 4 kelompok yang berada dibagian dalam pada umumnya mandul. Kotak sarinya beruang 4. Putiknya satu dan bertelur satu. Bentuk buah buni, berbiji satu, berdaging, dan bulat memanjang.


1. Kulit Kayu Manis

Produk kayu manis merupakan hasil utama dari kayu manis, produk ini berupa potongan kulit yang dikeringkan. Menghasilkan produk kayu manis sangat sederhana, yaitu cukup dengan penjemuran. Sebelum dijemur, kulit dikikis atau dibersihkan dari kulit luar, lalu dibelah–belah menjadi berukuran lebar 3–4 cm. Selanjutnya kulit yang sudah bersih ini dijemur dibawah terik matahari selama 2–3 hari. Kadar air yang tinggi diakibatkan oleh kurangnya waktu penjemuran selain kadar air masih tinggi mutu kulit dipengaruhi oleh kebersihan tempat penjemuran. Agar dapat menghasilkan mutu kulit yang baik, penjemuran sebaiknya dilakukan di bawah sinar matahari penuh (Rimunandar dan Paimin, 2001).

Ketebalan kulit kayu manis berkisar 0,2 sampai 1,0 mm (Vijaya Kumar, 2006). Permukaan kulit bagian luar berwarna coklat tua agak kehitam-hitaman, bercak-bercak putih melumut atau coklat muda, sedangkan permukaan kulit bagian dalam berwarna coklat agak kemerah-merahan sampai coklat kehitam-hitaman (Sutedjo,1990).



2. Kandungan Kimia Tanaman Kayu Manis

Sebelum masehi, kulit cinnamomun dikenal sebagai sumber pewangi untuk membalsam mumi raja-raja mesir serta peningkat cita rasa masakan dan minuman. Aroma kulitnya berasal dari minyak atsiri. Menurut Gildemeister (1574), kandungan minyak atsiri ini diperoleh melalui penyulingan uap. Minyak tersebut berada diseluruh bagian tanaman mulai dari akar hingga daun dan bunga. Komposisi kimia kayu manis ini tampak pada table 1.

Table 1. Komposisi Kimia Cinnamomun zeylanicum



Komponen terbesar minyak atsiri dari kulit adalah sinamat aldehida yaitu 60-75%. Kualitas minyak ditentukan oleh kadar minyak eugenol dan sinamat aldehida. Rata-rata kadar eugenol minyak atsiri dari kulit batang Cinnamomum zeylanicum rata-rata mencapai 87-96%. Menurut List dan horhammer, walaupun kadar minyak atsiri kulit Cinnamomum zeylanicum dapat mencapai 4% tetapi dalam prakteknya rata-rata hanya mencapai 1%. Dalam kulit kayu manis ini masih banyak terdapat komponen kimia seperti damar, pelekat, tanin (zat penyamak), gula, kalsium, oksalat, insektisida, cinnzelanol, dan cumarin.

Menurut Kartasapoetra (2004), bahan bakal obat yng berbau aromatik, rasanya pedas dan manis terkandung zat-zat:

1) Minyak atsiri sampai 4% yang mengandung sinamaldehid, eugenol, terpen, seskuiterpen dan furfural.

2) Zat penyamak 2%, pati 4%, kalsium oksalat 4%, dan lender 4%.
1. Manfaat Kayu Manis

Kayu manis, sejak dulu dikenal sebagai bumbu penyedap masakan dan pembuatan kue, dengan memakai batang kulitnya yang kemudian dikeringkan. Tapi, para ilmuan beranggapan kayu manis memiliki berbagai manfaat penyembuh penyakit, seperti efek yang ada pada kayu manis farmakologis yang digunakan untuk obat-obatan antara lain bisa digunakan untuk obat sariawan, obat batuk, sesak napas, nyeri lambung, perut kembung, diare, rematik dan menghangatkan lambung.

Saat ini peneliti telah membuktikan bahwa ekstrak kayu manis dapat meningkatkan sensitivitas insulin, membantu glukosa bermetabolisme. Para ilmuan di Israel telah menemukan bahwa ekstrak kayu manis berguna untuk menghambat bakteri H. pylori yang menyebabkan borok atau nanah. Seain itu kayu manis juga mengandung senyawa anti oksidan yaitu glutation (Vijaya Kumar, 2006).

Selain digunakan untuk bumbu makanan dan pembalsaman mumi, sudah lama minyak atsiri kayu manis dimanfaatkan sebagai antiseptic. Ini disebabkan minyak atsiri memiliki daya bunuh terhadap mikroorganisme. Dari beberapa penelitian diperoleh bahwa minyak kayu manis dapat membunuh baksil tipus hanya dalam waktu 12 menit, berbeda dengan minyak cengkeh yang waktunya mencapai 25 menit. Menurut Kartasapoerta (2004), dengan dosis 0,4 gram-1 gram minyak kayu manis (atsiri) ini mempunyai daya untuk mengeluarkan angin (carminative) dan membangkitkan selera atau menguatkan lambung (stomachic), jika dicampur dengan astringensia sangat baik untuk pengobatan diare. Minyak atsiri juga dipakai sebagai komponen dalam obat tradisional. Kloppenburg Versteeg menganjurkan bahwa kayu manis dapat dijadikan jamu untuk penyakit disenteri dan masuk angin.

Bianchini, Corbetta, Kiangsiu mengatakan bahwa minyak kayu manis sudah beberapa ratus tahun dikenal dibarat dan timur sebagai penyembuh penyakit rheumatic, mencret, pilek, sakit usus, jantung, pinggang, dan darah tinggi. Sementara sumaryo Syu dalam buku resep jamu jawa mengemukakan bahwa untuk kesuburan wanita, kayu manis dijadikan komponen jamu bersama dengan tanaman lain seperti bawang putih, kencur dan junggrahap. Selain itu, minyak kayu manis dapat digunakan dalam bidang industri sebagai obat kumur dan pasta, penyegar bau sabun, detergen, lotion, parfum, dan cream. Untuk pengolahan makanan dan minuman, minyak kayu manis sudah dimanfaatkan sebagai pewangi atau peningkat cita rasa, diantaranya untuk minuman keras, minuman ringan, agar-agar, kue, kembang gula, bumbu gulai dan sup.
A. Senyawa Eugenol

Eugenol merupakan suatu alkohol siklis monohidroksi atau fenol sehingga dapat bereaksi dengan basa kuat. Eugenol bersifat mudah menguap tidak berwarna atau berwarna agak kuning dan mempunyai rasa getir (Guenther, 1990). Eugenol digunakan sebagai bahan baku parfum, pemberi flavor, dan dalam bidang pengobatan sebagai antiseptik dan anestesi. Eugenol juga digunakan pada pembuatan isoeugenol untuk memproduksi vanilin sintetis.



Eugenol termasuk senyawa fenol, akan bereaksi dengan alkali hidroksida membentuk senyawa fenolat yang meningkat kelarutannya dalam air. Prinsip ini dipakai untuk memisahkan eugenol dari senyawa lainnya. Fenol adalah senyawa alkohol, dimana gugus alkilnya berupa aril atau sikloalkil. Struktur fenol adalah sebagai berikut:



Senyawa turunan fenol lainnya pada bumbu dapur dan sering dijumpai pada cengkeh, vanila dan lainnya, senyawa tersebut seperti isoeugenol, eugenol, vanili dan timol.



Eugenol merupakan zat cair berbentuk minyak tidak berwarna sedikit kekuning-kuningan. Larut dalam alkohol, kloroform, eter dan sedikit larut dalam air, berbau tajam minyak cengkeh berasa membakar dan panas di kulit. Eugenol mempunyai rumus molekul C10H1202 titik didih 2550C dan tekanan uapnya10 mmHg pada 1230C.

Adapun sifat-sifat dari eugenol adalah zat cair berupa minyak, titik didih:,253 oC, mudah menguap, sedikit larut dalam air, larut dalam alkohol, eter, kloroform, dan diklorometan dapat bereaksi dengan alkali hidroksida membentuk garam fenolat yang larut dalam air.
1. Isolasi Eugenol

Isolasi bahan alam dilakukan berdasarkan sifat bahan alam tersebut, dan dapat digolongkan menjadi isolasi cara fisis dan isolasi cara kimia. Isolasi secara fisis didasarkan pada sifat fisik bahan alam, seperti kelarutan dan tekanan uap. Isolasi berdasarkan perbedaan kelarutan bahan alam dalam pelarut tertentu dapat dilakukan dengan pelarut dingin atau pelarut panas. Isolasi dengan pelarut dingin digunakan untuk mengisolasi bahan alam yang dapat larut dalam keadaan dingin. Tekniknya dapat dilakukan dengan merendam sumber bahan alamnya dalam pelarut tertentu selama beberapa lama (jam atau hari). Untuk bahan alam yang larut dalam keadaan panas digunakan teknik isolasi secara kontinyu dengan alat Soxhlet. Isolasi berdasarkan penurunan tekanan uap dilakukan dengan cara destilasi uap. Cara ini digunakan untuk senyawa yang tidak larut dalarn air, bertitik didih tinggi, mudah terurai sebelum titik didihnya dan mudah menguap.

Isolasi secara kimia didasarkan pada sifat kimia atau kereaktifan bahan alam terhadap pereaksi tertentu. Bahan alam diisolasi melalui reaksi kimia dan dipisahkan dari senyawa lain yang tidak bereaksi.

Eugenol digunakan sebagai bahan baku obat dan parfum. Eugenol mudah bersenyawa dengan besi, oleh karena itu penyimpanannya harus dalam botol kaca, drum alumunium, atau drum timah putih. Data sifat fisika dari eugenol adalah sebagai berikut:

Berat jenis : 1,0651

Indeks bias : 1,5410 ( 20oC )

Titik didih : 253 oC

Titik nyala : 110 oC

Isolasi eugenol dapat dilakukan melalui beberapa jenis proses pemurnian (isolasi). Di antaranya, yaitu proses ekstraksi, distilasi fraksionasi (rektifikasi), kromatografi kolom, ekstraksi superkritik, dan distilasi molekuler (Anny S, 2002). Namun lebih ditekankan pada proses destilasi fraksionasi untuk pemisahan dari senyawa safrol.

Destilasi Fraksinasi adalah pemisahan komposisi yang dapat terjadi pada campuran yang disebabkan oleh perbedaan kimia diantara zat pendingin (molekul ringan dan yang unsur yang lebih berat tidak bisa bercampur), serta perbedaan indek tingkat kebocoran melalui seal dan hose instalasi A/C (lebih kecil molekul, tingkat kebocoran lebih tinggi dari pada molekul yang lebih besar), indek penyerapan oli kompressor dan drier juga berbeda.

Salah satu contoh Distilasi fraksinasi pada alkohol yang bertujuan untuk memperoleh alkohol berkadar tinggi melalui pembuatan alat penyulingan fraksinasi, pemberian arang tempurung kelapa dan kapur sebagai penyerap.
2. Karakterisasi Senyawa Eugenol
a. Tinjauan Tentang Kromatografi Gas Cairan (GC)

Kromatografi gas cairan merupakan salah satu cara untuk memisahkan molekul-molekul dari suatu campuran dengan prinsip kerja cuplikan diinjeksi kedalam injector. Aliran gas dari gas pembawa akan membawa cuplikan yang telah teruapkan masuk kedalm kolom. Selanjutnya kolom akan memisahkan komponen-komponen dari cuplikan (Sastrohamidjojo, 1999).

Kromatografi gas cairan merupakan suatu teknik kromatografi yang paling banyak digunakan. Hal ini disebabkn karena analisis dengan kromatogrfi gas cair dapat dilakukan dengan cepat dan relatif mudah terutama untuk mengetahui komponen-komponen yang menyusun suatu campuran tidak hanya secara kualitatif tetapi juga secara kuantitatif. Bahkan kini dipakai untuk preparative yang langsung dapat disambung dengn alat lain seperti spektrometri massa untuk menentukan struktur senyawa yang dipisahkan (Sastrohamidjojo, 1999).

Kromatografi gas cairan didasarkan atas pemisahan dengan partisi. Penggunaan kromatografi gas cairan menjadi sangat luas, tidak hanya analisis senyawa-senyawa yang reltif mudah menguap seperti senyawa-senyawa hidrokarbon yang sederhana, tetapi juga senyawa-senyawa yang lebih kompleks, seperti asam-asam amino, berbagai sterol dan pestisida. Penggunaan kromatografi gas cairan untuk dianalisis tidak saja karena makin banyak fase stasioner, tetapi juga karena adanya kemungkinan untuk mengadakan modifikasi senyawa yang titik didihnya sangat tinggi, menjadi titik didih yang jauh lebih rendah.

Keuntungan penggunaan kromatografi gas cairan selain kecepatan dan variasi penggunaan sangat luas juga karena dengan cara ini hanya dibutuhkan jumlah sample relative sangat kecil. Meskipun dengan sample yang sangat kecil, komponen yang jumlahnya sangat banyak dalam smpel tersebut dengan mudah dapat dipisahkan dalam bentuk kromtogram yang dapat memberikan informasi tidak hanya kuantitas tetapi juga identitas dari sample yang dianalisa (Hedayana, 1994).
b. Tinjauan Tentang Senyawa Organik Bahan Alam

Senyawa organik bahan alam adalah senyawa organik yang merupakan hasil proses metabolisme di dalam organisme hidup. Senyawa hasil proses metabolisme ini disebut juga senyawa metabolit sekunder. Senyawa metabolit sekunder memegang peranan penting dalam mempertahankan kehidupan organisme (Manito, 1992).

Senyawa metabolit lebih dikenal sebagai senyawa aktif seperti golongan flavonoid, terpenoid, steroid, dan flavonoid. Beberapa senyawa termasuk dalam senyawa golongan di atas memiliki aktifitas fisiologi sehingga digunakan dalam bidang pengobatan. Seperti metil salisilat, eugenol, morphin dan lain-lain. Salah satu golongan yang cukup bermanfaat dalam bidang pengobatan adalah golongan steroid, terutama digunakan sebagai kontrasepsi oral atau pil. Steroid memiliki beberapa sifat kimia, yaitu dapat didehidrasi, esterifikasi, hidrolisis ester steroid dan dapat dioksidasi. (Usman, 2000).
3. Pemanfaatan Senyawa Organik Bahan Alam

Senyawa bahan alam telah lama dikenal dan dimanfaatkan, baik secara tradisional maupun dengan memanfaatkan berbagai kemajuan teknologi dalam proses pengolahan dan pemanfaatannya.

Hal ini terjadi karena tumbuhan telah dikenal semenjak zaman dahulu sebagai bahan dasar dalam mengobati berbagai penyakit. Masyarakat masih mempercayakan tumbuhan sebagai alternatif pilihan obat selain menggunakan obat-obat sintetik yang diproduksi. Adanya obat-obatan yang telah digunakan pengobatan secara klinis saat ini, juga tidak terlepas dari peran dari bahan alam secara umum.

Pada awalnya, karena kurangnya pengetahuan tentang senyawa bahan bahan alam dan sifat-sifatnya, maka untuk mendapatkan kandungan dari senyawa bahan alam hanya digunakan cara-cara sederhana, seperti direbus, atau diperas, sehingga sari dari tumbuhan tersebut akan terbawa dan dimanfaatkan. Sari itu biasa kita kenal dengan nama ekstrak. Ekstrak yang digunakan itu mengandung ribuan senyawa kimia yang kita belum tahu apa jenisnya dan senyawa mana yang memberikan khasiat menyembuhkan penyakit

Kandungan kimia dari tumbuhan walaupun satu spesies akan sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis, iklim dan ekologi. Akan di jumpai variasi kandungan kimia akibat dari pengaruh kondisi ini. Variasi kandungan kimia juga akan dipengaruhi oleh bagian-bagian dari tumbuhan itu sendiri, akan terdapat perbedaan kandungan kimia dari akar dengan daun atau dengan kulit batang.

Banyaknya kandungan kimia yang dimiliki oleh ekstrak tumbuhan tersebut, memungkinkan senyawa-senyawa yang ada saling bersinergi ataupun mengantagonis ataupun berbagai aktivitas yang terjadi sehingga sampai pada kesimpulan tumbuhan tersebut memberi khasiat obat. Oleh karena itu sangat penting dilakukan isolasi senyawa kimia dari tumbuhan tersebut untuk melihat dan mengetahui senyawa apa yang betul-betul memberi peran dalam memberi khasiat. Setelah identifikasi kandungan kimia senyawa tersebut, eksperimental dapat dilanjutkan dengan pengujian bioaktivitasnya untuk membuktikan kebenaran dan keterkaitan antara penggunaan tradisional tumbuhan dengan pembuktian khasiatnya secara ilmiah.

Kehilangan aktivitas dari suatu ekstrak tumbuhan juga sangat dipengaruhi oleh kondisi penyimpanan, waktu koleksi sampel, dan penyiapan dan bahan mentahnya. (Usman, 2000).

BAB III

METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan di Laboratorium Kimia Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Nusa Cendana selama bulan Juli 2011.
B. Alat dan Bahan Penelitian
Alat Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: alat-alat gelas yang lazim dipakai dalam percobaan kimia organik, serta alat pendukung lainnya diataranya seperangkat alat destilasi fraksionasi, labu.
Bahan Penelitian

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Kulit batang kayu manis, larutan CH2Cl2, NaSO4.
C. Prosedur Kerja

1. Persiapan Ruangan

Ruangan tempat inokulasi dibersihkan dan disemprotkan dengan etanol 70%, untuk mensterilkan ruangan dari mikroorganisme lain.

2. Persiapan Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini dipersiapkan di laboratorium. Sedangkan tumbuhan kayu manis (Cinnamomun zeylanicum) diambil khusus kulit batangnya.

3. Pengambilan Sampel

Sampel kulit batang kayu manis diambil dari daratan Flores. Bagian sampel yang diambil adalah daun, akar, bunga, buah dan kulit batang. Bagian daun, akar, bunga dan buah digunakan untuk keperluan identifikasi tumbuhan yang dilaksanakan di Laboratorium Pendidikan Biologi Undana. Sedangkan kulit batang digunakan untuk isolasi.

4. Pengumpulan Sampel dan Penyiapan Simplisia

Sampel kulit batang kayu manis dibersikan dan dikeringkan tanpa sinar matahari langsung dengan fungsi pengeringan untuk mengurangi kadar air sehingga dapat menghindari reaksi ensimatis dan pertumbuhan jamur. Sampel dihancurkan dengan tujuan untuk memperluas permukaan sampel.

5. Skema Kerja Isolasi Eugenol



DAFTAR PUSTAKA

http://kedokteranherbal.wordpress.com/2010/06/26/kayu-manis-cinnamomum-zeylanicum-c-verum.

http//id.wikipedia.org/wiki/Senyawa_metabolit_primer

Rismunandar, Ferry B. Paimin.2009.Kayu manis: Budi Daya dan Pengolahan Edisi Revisi, Cetakan ke 8.Jakarta. Penebar Swadaya.

Barlow, S.M. 1989. Toxicological aspect of antioxidants used as food additives. Elsevier Applied Science, London.

G, Kartasapoetra.2004. Budi Daya Tanaman Berkhasiat Obat, Cetakan Kelima. Penerbit PT.RINEKA CIPTA. Jakarta.

Putra, S.E. 2005. Bahan Alam, Ujung Tembok Riset Kimia Di Indonesia. www.chem-is-try.org. Liputan. 13 November 2006.

SUHERDI, (1999). Kajian produksi kulit kayu manis dari berbagai tempat di Sumatera Barat. Prosiding seminar penelitian tanaman rempah dan obat Sub Balitto Solok.

Sutedjo, Mul Mulyani. 1990. Pengembangan Kultur Tanaman Berkhasiat Obat. Penerbit Rineke Cipta. Jakarta.

Kumar Vijaya, 2006. Rahasia Kesehatan Rempah dan Bumbu Dapur. PT. Bhuana Ilmu Populer. Jakarta.

Guenther, E., Minyak Atsiri. Universitas Indonesia. Jakarta

Sediawan, Wahyudi. 2003. Peningkatan Recovery Isolasi Eugenol dari Minyak

Daun Cengkeh dengan Penggunaan NaOH Berlebih dan Solven Organik n-Hexane. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada.

Anny S. 2002. Pengolahan Lanjut Minyak Atsiri dan Penggunaannya Dalam Negeri. Workshop Nasional Minyak Atsiri 30 Oktober 2002, Dirjen Industri Kecil Dagang Menengah, Depperinda g. Rusli, Meika Syahbana. 2010. Sukses Memproduksi Minyak Atsiri. Penerbit PT. Agro Media Pustaka. Jakarta

Sastrohamidjojo, H., 2004, Kimia Minyak Atsiri, Universitas Gaja Mada, Jogyakarta.

Hendrayana Sumar, 1994, Kimia Analitik Instrumen, IKIP Press Semarang. About these ads